Pencarian Buku
 
Home Penerbitan Katalog Jasa Kontak
   

Semang

Kategori : Novel


 Perbesar Cover         

 Link Google Playbook 
  ISBN : 978-602-336-358-2
  Penulis : Minanto
  Penerbit : Diandra Creative
  Tanggal Terbit : 2017-03-01
  Jumlah Halaman : 422
  Berat Buku : 500 gr
  Kertas : Bookpaper 57, 14x20 cm
  Harga : Rp. 60.000,00
Anda harus login untuk melakukan transaksi



Sinopsis

Semang adalah narasi semi-autobiografis dua tokoh Rahmat dan Satria. Melalui sudut pandang Rahmat-Satria secara berganti-ganti dan menggunakan alur campuran, novel ini menceritakan permasalahan-permasalahan keluarga, tradisi orang desa, iman, kemiskinan, hutang-piutang dan harta peninggalan. Permasalahan-permasalahan tersebut dihadapi oleh mereka dan tertumbuk pada cinta sesama jenis.
Novel ini berlatarkan kota kecil, Indramayu. Di desa Tegalurung, Rahmat tumbuh dalam keluarga Islami dalam keadaan ekonomi serba kecukupan. Orangtua memiliki lahan pertanian cukup luas sehingga bisa menjadi keluarga terpandang. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan pendidikan baik-baik, Rahmat tumbuh menjadi pribadi cerdas dan agamis. Ia berteman baik dengan Lukman sejak kecil, namun harus berpisah ketika mereka masuk pendidikan menengah tinggi.
Satu ketika, atas perundingan Mahmud dan Ening (orangtua Rahmat), Rahmat dan Lukman dikirim ke pesantren di Probolinggo. Selama empat tahun tinggal di pesantren, Rahmat mengenali diri sebagai pemuda di luar jalur. Dia merasa tak tetap hati ketika ia mulai jatuh cinta dengan Lukman. Di satu sisi, ia tidak pernah mengenal dongeng atau cerita tentang cinta sesama lelaki, bahkan dalam tradisi manapun. Namun, di sisi lain, dikelilingi teman-teman lelaki membuat ia sulit untuk keluar dari jerat cinta sesama jenis.
Bersama Lukman, Rahmat memperoleh pengalaman homoerotis. Gejolak batin semacam ini, ia gaungkan sebagai protes terhadap iman sekaligus sebagai proses identifikasi diri sebagai lelaki homoseksual. Di tahun pertama menempuh pendidikan di pesantren, Rahmat ditinggal mati oleh Mahmud. Melalui sambungan telepon ia berkomunikasi dengan Ibu Ening di Tegalurung. Tanpa diketahui Rahmat, Ibu Ening menghadapi masalah pelik hutang-piutang dengan kerabat jauh mendiang Mahmud bernama Rohim.
Sementara itu, di Tegalgirang (seberang desa Tegalurung), pemuda pengkor bernama Satria tumbuh dalam lingkungan keluarga begitu berbeda dari Rahmat. Ia, sejak balita, diangkat anak oleh sepasang suami-istri (Rosadi dan Rosiah). Dibesarkan dalam lingkungan keluarga melarat, Satria tumbuh menjadi pemuda keras kepala dan keras hati, tetapi ia ulet dalam bekerja. Sejak kecil, ia mengalami perundungan sebab tak jelas latar belakang dan asal-usul. Pelbagai kekerasan dan ejekan ia terima dari teman-teman sekolah dan para tetangga.
Tak tahan dengan perundungan, ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai menjajaki dunia kerja serabutan bersama Bapak Rosadi. Usia tiga belas, Satria ditinggal mati Emak Rosiah dan kemudian menjalani hidup serbasulit bersama Bapak Rosadi. Kemiskinan dan hutang-piutang menjadi masalah sehari-sehari. Butir-butir nasi menjadi persoalan tak henti-henti.
Sama seperti Rahmat, Satria pun tak mengenal cinta sesama jenis. Namun, baik Rahmat ataupun Satria merasakan cinta itu tumbuh tanpa bisa mereka hentikan. Ketika masa panen dan berburuh ke Tegalurung, Satria berjumpa dengan Ibu Ening dan Rahmat. Demikian, Satria dan Rahmat tidak sekadar berhubungan sebagai majikan-buruh, tetapi juga sebagai sepasang kekasih rahasia. Cinta saling berbalas dan setara. Namun, jauh dalam lubuk hati masing-masing, mereka masih mempersoalkan cinta semacam ini. Mereka mempermasalahkan diri masing-masing tentang ketulusan dinaungi tekanan permasalahan keluarga, ekonomi, status sosial, dan norma sosial.
Di saat cinta bersemi, datang dua perempuan, Siti Mubarokah dan Ratih ke dalam kehidupan masing-masing. Siti, perempuan penuh penerimaan, mengharapkan cinta Satria dan lantaran terikat janji di masa lalu orangtua masing-masing. Sementara itu, Ratih—anak perempuan Pak Rohim seorang kerabat jauh dari mendiang Mahmud, diharapkan untuk sambung tali silaturahmi dan penengah permasalahan pelik antara Ibu Ening dan Rohim.
Demikian, cinta Rahmat dan Satria adalah pertaruhan. Lebih daripada itu, cinta mereka menjadi persoalan besar ketika diketahui orangtua masing-masing. Di tengah-tengah keputusasaan, mereka tetap mempertahankan cinta. Hubungan Rahmat dan Ibu Ening menjadi lain, begitupula dengan hubungan Satria dan Bapak Rosadi. Sungguh-sungguhkah Rahmat dan Satria menjalani hubungan cinta sesama jenis—dalam kerahasian, ketika dua perempuan bersedia menjalani hidup bersama mereka, secara terbuka? Bersediakah Rahmat dan Satria mengorbankan janji dan perasaan masing-masing demi orangtua, iman, dan penerimaan secara sosial?

Buku Kategori Novel Lainnya

Menerka Hujan
Alid Fari
Rp 40.000
Miles Vol. 1
Fairuza Mahandewi Priyanka
Rp 32.000
Fatwa Jomblo: Sekali Mencinta Pantang Mundur Sebelum Menikah
Papa Muda
Rp 75.000
PREDIKSI: Bahan Ajar Materi Biologi SMA X-XII untuk Persiapan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah
Fajar Adinugraha, M.Pd
Rp 45.000
   
 
DiandraCreative.com
Online Self Publishing
Jl. Kenanga, Sambilegi No. 164
Maguwoharjo, Depok, Sleman
Telp : (0274) 433-2233
Fax : (0274) 485-222
SMS / WA : 085728253141, 081578853749, 089633188303
BBM : 7E89B325, 5A620F02, 588B2D1B
Email : diandracreative@yahoo.com
info@diandracreative.com