
Blog
Orang Tua Sebagai Penjaga Literasi: Membangun Minat Baca Anak di Era Gadget

Siapa yang tidak kenal Cinderella, Putri Salju, atau Bawang Merah dan Bawang Putih? Sejak dulu, cerita-cerita ini menghiasi masa kecil kita dan pada saat yang sama mengajarkan tentang kebaikan, kejahatan, serta keajaiban. Akan tetapi, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menimbang nilai-nilai yang sebenarnya tersimpan dalam dongeng-dongeng tersebut? Faktanya, seiring berjalannya waktu, cerita klasik itu semakin terasa perlu kita baca ulang dengan sudut pandang yang lebih kritis, khususnya melalui kacamata feminisme dan modernitas. Oleh karena itu, tujuan kita bukan untuk meruntuhkan keindahan dongeng, melainkan sebaliknya, untuk menyaring makna lama dan, pada akhirnya, menyajikan pesan yang jauh lebih relevan bagi anak-anak masa kini.
Ketika Perempuan Terkunci dalam Menara Gading
Pada umumnya, banyak dongeng tradisional menggambarkan perempuan sebagai sosok pasif yang sepenuhnya bergantung pada laki-laki. Sebagai contoh, mari kita lihat kisah Putih Salju. Hidupnya dipenuhi penderitaan, kemudian ia tertidur karena kutukan, dan pada akhirnya, pencerahan hanya datang melalui ciuman seorang pangeran. Dengan kata lain, ia tidak melakukan tindakan apa pun untuk mengubah nasibnya; ia hanya menunggu.
Setelah membahas hal itu, kita bisa beralih ke Rapunzel. Ia pun terperangkap dalam menara tinggi dan, sekali lagi, hanya menunggu sang pangeran datang menyelamatkan dirinya. Jelaslah bahwa penulis sering menggambarkan perempuan semata sebagai objek yang harus orang lain selamatkan, alih-alih subjek yang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Akibatnya, penceritaan semacam ini tanpa sadar menanamkan gagasan bahwa perempuan tidak memiliki agensi atau kekuatan mandiri. Lebih jauh lagi, cerita-cerita tersebut melatih pembaca untuk percaya bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa hadir lewat pernikahan dengan seorang pangeran atau pahlawan laki-laki. Padahal, narasi semacam itu bertentangan dengan realitas modern, tempat perempuan justru memegang kendali atas karier, pendidikan, dan pilihan hidup mereka.
Oleh karena itu, kita perlu mengajarkan anak-anak bahwa mereka adalah pahlawan dalam kisah mereka sendiri, sehingga mereka tidak harus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkan.
Mencari Makna Baru dalam Kisah Lama
Membaca ulang dongeng secara kritis bukan berarti kita harus membuang semuanya. Kita hanya perlu menggeser fokus. Alih-alih menekankan kepasifan Putih Salju, kita bisa menyoroti persahabatan dan solidaritasnya bersama tujuh kurcaci. Kita bisa bertanya, “Mengapa Ratu Jahat sangat terobsesi dengan kecantikan? Apakah ia korban dari standar kecantikan yang tidak realistis?” Dengan demikian, kita bisa mengajarkan anak-anak untuk mempertanyakan motif, bukan hanya menerima narasi hitam-putih.
Selanjutnya, kisah Bawang Merah dan Bawang Putih menghadirkan pola serupa. Alih-alih hanya berfokus pada sihir labu ajaib, kita sebaliknya bisa menyoroti keteguhan hati dan kerja keras Bawang Putih. Dengan kata lain, kita bisa menekankan bahwa kebaikan merupakan kekuatan, bukan sebaliknya, kelemahan yang selalu menunggu pertolongan. Selain itu, jika kita telusuri lebih jauh, alasan Bawang Merah dan ibunya bersikap jahat barangkali muncul dari rasa iri atau keterdesakan ekonomi. Oleh karena itu, membuka dialog semacam ini akan membantu anak-anak mengembangkan pemikiran kritis dan empati, alih-alih sekadar melihat karakter sebagai stereotip baik-buruk.
Penceritaan yang modern dan inklusif mampu menyajikan karakter perempuan yang kuat, cerdas, dan aktif. Kita bisa menceritakan ulang Cinderella sebagai perempuan yang gigih dan cerdik yang membuat rencana untuk bisa pergi ke pesta dansa, atau Rapunzel sebagai gadis pintar yang memanfaatkan rambutnya untuk melarikan diri sendiri. Hal ini mendorong anak-anak melihat karakter perempuan sebagai sosok yang mampu menghadapi masalah dan mencari solusi sendiri.
Jadi, mari kita terus menceritakan dongeng, namun dengan cara yang baru. Kita ajak anak-anak menguraikan makna tersembunyi, menimbang nilai-nilai, dan menciptakan pemahaman yang lebih kaya. Dengan memahami sisi lain dari kisah-kisah ini, kita bisa tetap melestarikan dongeng, tetapi dengan cara baru yang lebih bermakna.
—-
Penulis: artikel ini merupakan hasil pengolahan AI
Editor: Redaksi
Gambar oleh Tú Nguyễn dari Pexels
Anda dapat menghubungi redaksi Diandra Creative di sini.
Bisa mengecek artikel lain di sini.

