Berita Buku

Hindari Kesalahan Umum Dosen dalam Publikasi Jurnal Ilmiah Ini!

Bagi seorang akademisi, menulis artikel ilmiah dan memublikasikannya ke jurnal bereputasi merupakan sebuah keniscayaan. Aktivitas riset ini bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi, melainkan juga menjadi pilar utama dalam kenaikan jabatan fungsional dosen. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses menembus jurnal ilmiah, baik skala nasional terindeks SINTA maupun internasional bereputasi seperti Scopus, sering kali penuh dengan rintangan.

Banyak dosen, terutama peneliti pemula, mengalami penolakan (rejection) berkali-kali dari pihak pengelola jurnal. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Sebenarnya, penolakan tersebut sering kali bukan karena substansi penelitian yang buruk, melainkan akibat kelalaian teknis dan metodologis yang mendasar. Oleh karena itu, mari kita bedah beberapa kesalahan umum dosen dalam publikasi jurnal ilmiah yang wajib Anda hindari agar naskah Anda sukses terbit.

1. Mengabaikan Ruang Lingkup (Scope) Jurnal Tujuan

Kesalahan fatal yang paling sering terjadi adalah ketidaksesuaian antara topik artikel dengan ruang lingkup jurnal yang Anda tuju. Banyak dosen tergesa-gesa mengirimkan naskah mereka ke sebuah jurnal hanya karena melihat reputasinya yang tinggi atau waktu terbitnya yang cepat.

Padahal, setiap jurnal memiliki fokus kajian yang sangat spesifik. Ketika Anda memaksakan artikel bertema pendidikan bahasa untuk masuk ke jurnal yang berfokus pada linguistik murni, editor akan langsung menolak naskah tersebut pada tahap penyaringan awal (desk rejection). Akibatnya, Anda telah membuang waktu berharga secara sia-sia hanya karena kurang teliti membaca halaman Aim and Scope jurnal tersebut.

2. Mengabaikan Gaya Selingkung (Author Guidelines)

Setiap pengelola jurnal memiliki aturan main tersendiri terkait format penulisan, yang jamak kita sebut sebagai gaya selingkung. Aturan ini mencakup batas jumlah kata, gaya sitasi (seperti APA, IEEE, atau Harvard), struktur abstrak, hingga format penulisan tabel dan gambar.

Sayangnya, sebagian dosen menganggap remeh hal ini dan cenderung menggunakan format yang sama untuk berbagai jurnal berbeda. Ketika editor menerima naskah yang formatnya berantakan dan tidak mengikuti templat resmi mereka, hal itu memberikan kesan bahwa penulis tidak profesional dan tidak serius. Oleh karena itu, menyelaraskan artikel dengan template jurnal tujuan adalah langkah wajib sebelum Anda menekan tombol submit.

3. Kebaharuan (Novelty) dan Kontribusi Ilmiah yang Lemah

Sebuah artikel ilmiah yang baik harus mampu menjawab pertanyaan, “Lalu apa bedanya dengan penelitian terdahulu?” Di sinilah letak pentingnya kebaharuan atau novelty. Asesor dan reviewer jurnal bereputasi sangat menghindari naskah yang hanya mereplikasi penelitian lama tanpa menawarkan sudut pandang atau temuan baru.

Kesalahan umum yang kerap muncul adalah ketidakmampuan dosen dalam menarasikan celah penelitian (research gap) pada bagian pendahuluan. Jika Anda gagal menjelaskan mengapa penelitian Anda penting dan apa kontribusi nyatanya bagi perkembangan ilmu pengetahuan, maka naskah Anda akan kehilangan daya tarik di mata mitra bestari.

4. Manajemen Referensi dan Sitasi yang Kurang Mutakhir

Kualitas sebuah artikel ilmiah juga tecermin dari daftar pustaka yang penulis gunakan. Beberapa dosen masih sering menggunakan referensi yang sudah usang, misalnya buku teks atau jurnal yang terbit lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Selain itu, penggunaan rujukan dari blog pribadi atau situs web yang tidak kredibel juga menurunkan bobot akademis tulisan Anda.

Selanjutnya, kesalahan teknis seperti ketidaksesuaian antara nama yang Anda sitasi di dalam teks dengan daftar pustaka di bagian akhir juga sering kali merusak kredibilitas naskah. Untuk mengatasi kendala ini, Anda sangat disarankan menggunakan aplikasi manajemen referensi otomatis seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote agar proses sitasi berjalan akurat dan konsisten.

5. Kualitas Bahasa dan Penggunaan Penerjemah Mesin yang Mentah

Bagi dosen yang mengincar jurnal internasional, kendala bahasa sering kali menjadi momok terbesar. Kesalahan yang kerap terjadi adalah menerjemahkan artikel berbahasa Indonesia ke bahasa Inggris menggunakan mesin penerjemah otomatis secara langsung tanpa adanya proses penyuntingan ulang (proofreading).

Hasil terjemahan mentah biasanya menghasilkan kalimat yang kaku, rancu, dan sulit dipahami oleh editor asing. Meskipun substansi riset Anda sangat brilian, kendala bahasa yang buruk akan membuat editor enggan melanjutkan naskah Anda ke tahap peer-review. Oleh karena itu, menginvestasikan waktu atau biaya untuk jasa professional proofreading merupakan langkah bijak demi mengamankan peluang terbit.

Menghindari berbagai kesalahan di atas memang menuntut ketelitian, kesabaran, dan kedisiplinan yang tinggi dari seorang dosen. Namun, dengan memahami dan mengantisipasi titik-titik lemah tersebut, Anda dapat menyusun strategi publikasi yang jauh lebih efektif. Pada akhirnya, naskah yang dipersiapkan dengan matang, menaati aturan, dan menawarkan kebaharuan yang jelas akan memiliki peluang keberhasilan yang sangat tinggi untuk menembus jurnal impian Anda.

—

Penulis: artikel ini merupakan hasil pengolahan AI

Editor: Redaksi

Gambar oleh ICSA  dari Pexels

Anda dapat menghubungi redaksi Diandra Creative di sini.

Bisa mengecek artikel lain di sini.