Berita Buku

Dampak dan Solusi Melestarikan Bahasa Ibu di Indonesia

bahasa ibu

Kita semua tumbuh dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan Sabang hingga Merauke. Namun, di balik kesatuan itu, kita memiliki ribuan bahasa ibu atau bahasa daerah, sebuah kekayaan multikultural yang luar biasa. Sayangnya, dalam era modern ini, banyak bahasa daerah yang kian terlupakan, terdesak oleh dominasi Bahasa Indonesia dan bahasa asing. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengubah perspektif; bahasa daerah bukan ancaman atau pesaing, melainkan partner yang justru memperkaya identitas bangsa kita.

Bahasa Ibu sebagai Akar Budaya dan Identitas

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Lebih dari itu, bahasa adalah wadah bagi budaya, tradisi, dan cara pandang. Ketika sebuah bahasa daerah hilang, kita tidak hanya kehilangan kosakata, tetapi juga kehilangan cerita rakyat, pepatah, dan kearifan lokal yang telah turun-temurun. Sebagai contoh, pepatah Jawa, “Wong Jowo ojo lali Jowone” (orang Jawa jangan lupa Jawanya), mengingatkan kita akan pentingnya akar budaya. Pepatah ini sulit diterjemahkan secara harfiah ke dalam Bahasa Indonesia tanpa kehilangan makna mendalamnya.

Begitu pula dengan bahasa-bahasa lain. Bahasa Sunda memiliki tingkat tutur yang merefleksikan nilai-nilai kesopanan dan hierarki sosial. Bahasa Batak punya ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kekerabatan yang kuat. Dengan melestarikan bahasa ibu, kita juga menjaga keberlangsungan nilai-nilai ini.

 

Memperkaya Bahasa Indonesia

Banyak orang khawatir bahwa mempertahankan bahasa ibu akan melemahkan Bahasa Indonesia. Padahal, sebaliknya, bahasa ibu justru memperkaya kosakata Bahasa Indonesia. Banyak kata dalam Bahasa Indonesia yang kini kita gunakan sehari-hari berasal dari bahasa daerah. Ambil contoh, kata “santai” (Sunda), “baper” (dari Bawa Perasaan, dari Jakarta), atau “lebay” (dari berlebihan). Kata-kata ini telah diserap dan menjadi bagian dari perbendaharaan kata kita, membuat Bahasa Indonesia semakin dinamis dan kaya.

Sejalan dengan itu, peran kita sebagai individu sangat penting. Kita bisa mulai dari rumah, dengan mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak kita. Kita dapat mendorong mereka untuk berbicara bahasa ibu dengan kakek-nenek. Lebih jauh lagi, kita bisa mendukung inisiatif komunitas yang mengadakan kelas bahasa daerah atau festival budaya.

Maka, mari kita hentikan pandangan bahwa Bahasa Indonesia dan bahasa ibu adalah pesaing. Sejatinya, keduanya adalah partner dalam membangun identitas bangsa yang kuat dan multikultural. Bahasa Indonesia adalah rumah besar kita, sementara bahasa ibu adalah kamar-kamar yang memberikan karakter dan kehangatan di dalamnya. Oleh karena itu, mari kita peluk keduanya, karena di dalam keunikan setiap bahasa ibu, terletak keindahan Indonesia seutuhnya.

—-

Penulis: artikel ini merupakan hasil pengolahan AI

Editor: Redaksi

Gambar oleh Anna Tarazevich dari Pexels

Anda dapat menghubungi redaksi Diandra Creative di sini.

Bisa mengecek artikel lain di sini.