Tips Menulis Bagi Milenial

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan bahwa menulis adalah kerja keabadian. Itu artinya dengan menulis, maka kita telah mengabadikan ide dan perasaan kita terhadap sesuatu. Saat ini siapa saja bisa menjadi penulis. Masalahnya tidak semua orang tahu langkah-langkahnya. Nah, berikut ada beberapa tips buat milenial yang ingin memulai menulis.

1. Temukan Ide
Ide atau buah pikiran adalah hal utama yang perlu disiapkan. Tanpa ide penulis tidak bisa merangkai sebuah cerita. Tidak perlu muluk-muluk atau mencari ide yang tampak keren banget. Sebagai penulis baru, kamu bisa memulai menemukan ide dari hal-hal yang kamu sukai. Misalnya, suka musik, makanan, drama korea, atau bahkan hal yang sedang kamu alami.

2. Tentukan Topik yang Spesifik
Setelah dapat ide, kamu perlu membuat brainstorming ide tersebut. Tentukan satu topik bahasan dari ide yang dipilih. Kalau itu soal makanan, maka spesifikasikan ke makanan tertentu. Kalau soal cinta, tentukan soal cinta yang bagaimana, jatuh cinta, patah hati, atau kekecewaan?

3. Riset Bahan Tulisan
Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan bahan tulisan. Pengumpulan bahan bisa melalui penelitian di lapangan, membaca buku, berselancar di internet, atau wawancara. Pilihlah cara yang disukai dan memudahkan pengumpulan bahan tulisan.

4. Bikin Kerangka Tulisan
Apabila bahan tulisan sudah terkumpul, mulailah membuat kerangka tulisan. Caranya mudah, tulislah poin-poin yang ingin kami ceritakan di setiap paragraf ataupun bab-bab dalam tulisan. Kamu juga bisa sekaligus menentukan alur tulisan yang diinginkan. Kerangka tulisan akan memudahkan kamu dalam menulis. Kamu tidak akan bingung di tengah-tengah menulis karena sudah ada poin yang menjadi acuan.

5. Mulailah Menulis
Nah, setelah semua tahap di atas selesai dilakukan, mulailah menulis. Tidak perlu ribet dengan kata-kata indah, tulis saja dulu. Salurkan semua ide dalam pikiran melalui tulisan. Soal bagus tidaknya bisa dikoreksi jika sudah selesai. Jangan lupa, acuanmu ada di kerangka tulisan dan topik yang sudah dibuat. Tapi, tidak perlu kaku jika ada pengembangan cerita atau alur.

6. Penyuntingan dan Periksa aksara
Kunci bagus tidaknya tulisan juga ada pada penyuntingan dan pemeriksaan akasara. Jikalau tulisan sudah selesai, maka berlatihlah menjadi editor untuk tulisan sendiri. Perhatikan hal-hal yang menurut kamu kurang pas atau berlebihan. Periksa juga penulisan dengan menggunakan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Enam tips di atas masih bisa dikembangkan lagi oleh setiap penulis. Hal terpenting lainnya adalah berani memulai menulis. Kesulitan dan masalah pasti akan dihadapi,tapi kita tidak akan bisa berada di tingkat selanjutnya tanpa mencoba dan menghadapi kesulitan yang akan menerpa. (Redaksi)