Artikel

Menemukan Jiwa di Balik Angka dan Data: Menyusuri Lorong Batin Periset BRIN dalam Antologi Puisi “Mengukir Jejak Menggali Makna”

Masyarakat sering mengidentikkan dunia riset ilmiah dengan hal yang kaku. Para peneliti bekerja di laboratorium yang sunyi. Mereka sibuk membaca tumpukan literatur tebal. Selain itu, mereka harus menganalisis lembaran data statistik yang rumit. Para ilmuwan mendedikasikan hari-hari mereka demi mencari kebenaran objektif. Namun, kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi dalam batin seorang periset? Bagaimana perasaan mereka ketika mengolah data setiap hari?

Pertanyaan mendalam ini menemukan jawabannya dalam buku puisi terbaru. Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Orarbastra) menerbitkan buku ini. Judul buku tersebut adalah “Mengukir Jejak Menggali Makna”. Karya ini merupakan antologi puisi karya para periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka semua berkhidmat di bawah Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas.

Buku ini memiliki ketebalan 413 halaman. Ukuran fisiknya adalah 14 x 20 sentimeter. Oleh karena itu, hadirnya buku ini memberikan warna baru dalam dunia literasi Indonesia. Penulis tidak hanya menyajikan kumpulan sajak biasa. Sebaliknya, mereka menyajikan catatan harian batin tentang dinamika kehidupan intelektual. Para peneliti ini mengalami perpindahan raga dan kata-kata menuju kota Jakarta. Selanjutnya, melalui ulasan ini, kita akan membedah keistimewaan buku kolosal ini.

Menyelami Dimensi Estetika dan Sisi Lain Periset BRIN

Selama bertahun-tahun, para penulis terbiasa menggunakan metodologi ilmiah yang ketat. Mereka rajin mengolah data lapangan. Kemudian, mereka merenungkan berbagai permasalahan sosial dan humaniora. Pada akhirnya, mereka menuangkan analisis tersebut ke dalam bentuk jurnal ilmiah. Namun demikian, bahasa ilmiah yang kaku tidak mampu menampung seluruh emosi manusia. Oleh sebab itu, para peneliti memilih puisi sebagai media pelepasan emosi.

Blurb buku ini menjelaskan hal yang sangat menarik. Pembaca dapat menganggap bait-bait puisi ini sebagai “data kualitatif” batiniah. Oleh karena itu, kita bisa merumuskan setiap larik sajak menjadi pertanyaan penelitian. Puisi-puisi ini membicarakan rasa rindu, keterasingan, adaptasi, dan keteguhan iman. Selain itu, pesan-pesan simbolik di dalamnya merekam perjalanan hidup selama satu tahun. Para peneliti rutin berjalan dari kamar kos sederhana menuju kantor di Jalan Gatot Subroto. Akibatnya, jarak geografis antara Jakarta dan kampung halaman memuai menjadi energi puitis.

Peta Perjalanan Batin: Bedah Daftar Isi dan Ragam Suara Penulis

Syaifuddin Gani menyunting antologi “Mengukir Jejak Menggali Makna” dengan sangat apik. Selain itu, Kepala OR Arbastra memberikan catatan penghidang di bagian awal. Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas juga menyumbangkan kata pengantar. Selanjutnya, Suyadi San menulis prolog yang memikat. Dharma Satrya H.D. kemudian melengkapi buku ini dengan epilog yang mendalam. Buku ini menghimpun suara puluhan periset dari bermacam latar belakang. Hasilnya, setiap penulis membawa warna dan memori kultural yang unik ke tengah kota Jakarta.

1. Nuansa Perantauan, Rindu, dan Adaptasi Ruang

Daftar isi buku ini menggambarkan peta migrasi emosional para periset. Sebagai contoh, Achril Zalmansyah menulis sajak kontemplatif berjudul Hijrah, Rindu, dan Amanah. Ia juga menambahkan sajak berjudul “Ngeteng”: di Antara Dua Kota. Sementara itu, Ade Mulyanah merekam kegelisahan perantau lewat puisi Jakarta: Janji yang Menjauh. Kemudian, Ai Kurniati menggambarkan dinamika psikologis perantau melalui karya Romantika Perantau.

Oleh karena itu, sajak-sajak dalam buku ini terasa sangat dekat bagi kaum perantau. Penulis berhasil menyampaikan rasa gamang saat menghadapi hiruk-pikuk ibu kota. Erlin Rosita memotret suasana ini lewat puisi Romisme Si Manis Berduri. Lalu, Ery Agus Kurnianto menulis sajak Liminal di Selat. Di samping itu, Herianah menghadirkan karya berjudul Ramai tapi Gersang. Pada akhirnya, stasiun kereta, gerbong KRL, terminal, dan kamar kos menjadi saksi bisu perjuangan harian mereka.

2. Denyut Kehidupan Megapolitan dan Sisi Humanisnya

Para penyair ini melihat kota Jakarta dari sudut pandang yang jujur. Kota megapolitan ini memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Jakarta tampak megah, namun kota ini juga sangat melelahkan. Kota ini memberi harapan sekaligus menguji ketahanan mental.

  • Emma Maemunah menuliskan kejujurannya lewat sajak Jakarta, I Like You but I do not Love You!.

  • Martina membagikan kisah hangat tentang kebersamaan perantau melalui karya Persahabatan di Kos.

  • Muhammad Shubhi Amaq Arja memotret realitas harian lewat sajak tajam Angker Depok-Manggarai.

  • Nia Kurnia merekam detail kehidupan urban secara rinci melalui sajak Gang Lisa dan Malam di TIM.

Meskipun mereka hidup di Jakarta, memori tanah kelahiran tetap melekat kuat. Kenangan tentang Pontianak, Lampung, Bali, dan Sumatra terus menyapa pikiran mereka. Akibatnya, dialog antara masa lalu dan masa kini menciptakan karya sastra yang sangat bernilai.

Mengapa Anda Harus Membaca Buku Ini?

Membaca buku ini memberikan banyak manfaat bagi Anda. Penulis menyajikan cerita yang kaya akan nilai literer dan emosional. Berikut adalah beberapa alasan utama untuk memiliki buku ini:

  • Perspektif Otentik Peneliti: Pembaca dapat melihat sisi manusiawi dari para periset negara. Selama ini, masyarakat jarang melihat sisi emosional para ilmuwan tersebut.

  • Gaya Sastra yang Kaya: Puluhan penyair menyumbangkan karya dalam antologi ini. Oleh karena itu, buku ini menawarkan variasi gaya penulisan dan diksi yang sangat beragam.

  • Tema Sosial yang Relevan: Penulis mengemas tema urbanisasi, perantauan, dan rindu rumah secara halus. Hasilnya, kisah-kisah ini terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.

  • Bacaan untuk Merenung: Buku ini mengajak pembaca untuk melambat sejenak di tengah kesibukan era digital. Sebab, setiap bait puisi mengajak kita merenungkan makna perjalanan hidup.

Kesimpulan: Catatan Abadi Perjalanan Jiwa

Pada akhirnya, “Mengukir Jejak Menggali Makna” bukan sekadar kumpulan puisi biasa. Buku ini tidak hanya mencatat peristiwa mutasi kerja atau tugas kedinasan. Lebih dari itu, buku ini merupakan catatan kerohanian yang abadi. Para periset membuktikan bahwa manusia mampu beradaptasi dengan takdir baru. Mereka sanggup mengalahkan rasa sepi di tengah keramaian kota. Selain itu, mereka terus menjaga semangat kerja demi ilmu pengetahuan dan keluarga.

Oleh sebab itu, pencinta sastra dan akademisi wajib memiliki buku setebal 413 halaman ini. Masyarakat umum juga bisa menikmati cerita perjuangan perantau di dalam buku ini. Jadi, segera dapatkan buku terbaru terbitan Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra ini. Biarkan puisi-puisi indah di dalamnya menginspirasi perjalanan hidup Anda.

—

Editor: Redaksi

Anda dapat menghubungi redaksi Diandra Creative di sini.

Bisa mengecek artikel lain di sini.